Rabu, 14 Desember 2011

Lelaki vs Rok Mini



Soal rok mini ini memang menggelitik. Gw sendiri di dalam dilema yang besar. Alasannya, pertama karena gw cowo. Kedua, karena gw belum pernah memakai rok mini. Sebagai orang berpendidikan, gw khawatir perspektif gw terhadap rok mini ini menjadi sangat subyektif, dipenuh asumsi, dan ngawur.


Tapi sebenarnya gw selalu ingin mengajukan pertanyaan kepada setiap pengguna rok mini atau celana super pendek di area publik demi mendapat sudut pandang yang obyektif dari si pemakai agar gw tidak salah sangka:

1. “Mbak-mbak, boleh tau apakah dengan rok mini yang mbak pakai itu, saya atau kami boleh menikmati paha mbak?”
2. “Kalau boleh, apakah mbak memang sengaja agar kami melihatnya? atau malah risih kalau kami melihatnya?”
3. “Atau tolong jelaskan kepada kami, bagaimana seharusnya kami boleh menikmati paha mbaknya biar mbak nyaman dan kita bisa sama-sama menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat juga dilihati?”




Pertanyaan ini sebenarnya penting untuk ditanyakan sebagai dasar ilmiah untuk mengambil kesimpulan, tapi belum kesampaian gw tanyakan sampai saat ini. Malu nanyanya. Dan gw memilih untuk menikmati rok mini tersebut dengan diam-diam, dengan “etika” yang gw karang sendiri agar tidak berdampak sosial yang buruk.

Ada yang bilang ini soal iman. Kalau iman kuat, rok mini lewat. Gw kira setiap orang beriman yang jujur, kalau ditanya pasti menjawab akan timbul pikiran bukan-bukan ketika menjumpai perempuan muda berpaha indah memakai rok mini atau celana pendek sekali di tempat umum.

Tidak usah jauh-jauh, gw sendiri akan mengaku beriman, sholat Insya Allah jarang kelewat, kadang-kadang juga ngaji, tapi rok mini is rok mini, daya tariknya sungguh sering melewati daya tangkal iman. Kalau ada yang bilang “Pikiran situ saja yang jorok“, duh, pengen banget gw jawab “Gw sudah susah payah membersihkan pikiran dari yang nggak-nggak, tapi situ lewat sambil menjorok-jorokkan paha …. memaksa untuk dilihat“.

Soal hak, semua memang punya hak masing-masing. Selama masih berada di tempatnya, hak menjadi sesuatu yang aman bagi dirinya maupun orang lain.

Contohnya merokok. Gw yakin itu adalah hak. Tidak seorangpun kecuali keluarga dan orang-orang yang bergantung hidupnya pada perokok boleh melarang orang untuk merokok. Tetapi ketika merokok di tempat umum, hak itu jadi tidak aman untuk orang lain. “Tolong ya mas, merokoknya di ruang merokok, atau menggunakan helm full face saja biar asapnya tidak terhirup oleh saya“. Gimana kalau perokok menjawab, “Ya situ saja jangan hirup asap saya kalau memang tidak suka bau asap“. Kira-kira Lo
mau langsung tonjok ga?

Mamainkan musik adalah hak. Tetapi ketika bertetangga, genjrang-genjreng di jam dua pagi di depan rumah orang, kira-kira akan membuat tidur orang terganggu tidak? Gimana kalau ketika ditegur si penggitar menjawab “Tolong ya Bu, kalau memang tidak suka dengan suara gitar saya, ibu jangan dengerin suaranya, gitar-gitar saya kok ibu yang repot“. Kira-kira si ibu akan melempar sandal atau ga?
Kalau bermainnya di dalam kamarnya sendiri, di studio musik kedap suara, gw kira volume sebesar apapun tidak akan jadi masalah. Minimal tidak jadi masalah untuk orang lain.

Sama jadinya dengan rok mini dan hot pants. Di rumah, rok mini akan menjadi sangat asik. Aman, dan nyaman buat semuanya. Apalagi di kamar, tidak pakai rok pun akan semakin menambah suasana jadi lebih sesuatu banget. Dan, semua orang akan merasa happy dan dijamin aman.

Tapi di boncengan sepeda motor, di busway, di jalanan … duuuh, please mbak, bu, kalau sekadar gw yang lihat dijamin akan aman. Karena nafsu dan pikiran gw akan gw manage sedemikian rupa sehingga akan hanya meledak tanpa melukai Anda, paling banter juga gw lari ke kamar mandi. Tapi kalau yang nafsunya meledak itu lelaki yang sedang sakit parah jiwanya dan tak tau tempat?

Pemerkosa adalah orang yang sedang sakit jiwanya. Dan kata orang tua, mencegah lebih mudah dan murah dari pada mengobati. Mengobati mereka tetap harus dilakukan karena bisa membahayakan orang lain, berapapun biaya material dan sosial yang dibutuhkan, termasuk kita memberi makan mereka di penjara seumur hidup.

Tapi sambil mengobati, akan lebih cerdas, mudah, dan murah kalau kita semua juga ikut mencegah, salah satunya dengan tidak mengguanakn rok mini di tempat umum. Masih banyak pilihan busana yang lain, yang tetap menarik (tanpa menggoda) dan pantas.

Cara ini pasti lebih murah sebelum ada yang menjadi korban lelaki sakit jiwa. Kecuali, kalau memang rok mini telah menjadi sumber penghasilan pemakainya.

Mbak-mbak, ibu-ibu. Sebagai lelaki, gw selalu mengagumi perempuan. Dalam teori gw, perempuan itu setiap inchi kulitnya adalah fashion. Karena itu, benang dililit-lilit pun ke beberapa bagian tubuh, sudah seperti keindahan yang menyeluruh. Perempuan juga sangat ekspresif. Mereka suka bicara, suka berdandan, suka “menunjukkan” keindahan dirinya. Itu memang kodratnya.

Dan sedikit ini komentar lelaki. Kami-kami ini juga sangat ekspresif. Tapi berbeda caranya dengan perempuan. Kami tidak terlalu suka bicara, suka berdandan, menunjukkan keindahan diri sendiri. Tapi langsung bertindak.

Sebagian yang lain, ekspresinya malah tidak terlihat sama sekali. Tetapi sesuatu di dalam celananyalah yang langsung bereaksi.


Maka gw sempat heran ketika di HI ada yang berdemo tentang hak perempuan memakai rok mini. Ibaratnya jangan memasukkan pancing ke dalam air kalau tidak mau disambar ikan. Seseorang pernah ngajarin kalau perempuan diibaratkan lontong, maka pembeli pasti akan memilih lontong yang tertutup rapat oleh daun pisang dibandingkan lontong yang terbuka disana sini.


Maka, seperti Bang Napi bilang, "kejahatan terjadi bisa bukan karena niat pelakunya, tetapi ketika ada kesempatan."

Semoga kita semua aman dan selamat. Di manapun berada. Teriring doa untuk istri, ibu, anak, kakak, dan adik2 kita semua.

Salam,

Lelaki.


-dari berbagai sumber-



3 komentar:

Anonim mengatakan...

like...bagus pendapat lw tentang rok mini,,sama aja kya perokok di tempat umum..:))

melchantique mengatakan...

kalo yang pake rok mini atau celana super pendeknya itu pahanya gede banget... apa iya, lo akan diam2 menikmati juga dan?

Ramdan Nasution mengatakan...

klo gw peibadi sih nggak..tapi kan ada cowok yg suka sama tipe paha gede.. :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...